A Story of PhD Mom with 4 Kids: A Reflective Journey of Dreams, Doubts, and Resilience

  • 17 July 2026
  • 03 Mins read

Tantangan PhD

*Cohort *kami menjadi bagian dari integrated PhD, sehingga kami wajib mengikuti kelas kuantitatif dan lulus ujian. Di saat yang sama, kami tetap harus melaporkan progres riset setiap minggu kepada supervisor. Rasanya sangat *overwhelming *di masa adaptasi, tetapi alhamdulillah semua terlewati.

Menginjak tahun kedua, saya menerima komentar yang membuat saya berpikir.

“You’re not a normal PhD student.”

“You’ve participated in too many conferences.”

“You’re too ambitious.”

Awalnya saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya terlalu banyak mengambil kesempatan? Apakah saya terlalu ambisius? Tetapi setelah merenung, saya sadar bahwa sudah terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Mengkhawatirkan sesuatu yang tidak merugikan siapa pun hanya akan menambah beban. Formula saya pun sederhana: saya hanya ingin melakukan yang terbaik, tidak mengecewakan supervisor, dan menjadikan perjalanan PhD ini kaya, bermanfaat, dan bermakna.

Belajar syariah di kota Cathedral bukan hal yang mudah. Meskipun saya berada di salah satu pusat studi terbaik di dunia, bidang ini belum populer disini. Karenanya, setiap konferensi, organisasi, dan kesempatan akademik saya niatkan untuk membawa *visibility *bagi program syariah, memperluas kontribusi, terus belajar, sambil membangun koneksi agar perjalanan ini terasa tidak sendiri. Saya percaya perjalanan ini bukan hanya tentang saya, tetapi juga tentang bagaimana ilmu, pengalaman, dan kesempatan yang saya miliki dapat memberi manfaat bagi komunitas yang luas.

Berdamai dengan Imposter Syndrome

Sering kali saya meragukan diri sendiri. Dalam banyak kesempatan, saya merasa supervisor lebih percaya kepada saya daripada saya percaya diri sendiri.

Ketika memulai perjalanan ini, saya baru mengenal imposter syndrome. Saya pernah mengikuti kelas tentang ini. Ketika pengajar bertanya siapa yang pernah mengalaminya, semua orang mengangkat tangan. Saat itu saya sadar bahwa saya tidak sendiri. Bahkan orang-orang yang terlihat sangat percaya diri pun bisa menyimpan rasa ragu. Saya belajar bahwa merasa takut bukan berarti tidak mampu. Kadang kita hanya perlu tetap melangkah, meski rasa ragu ikut berjalan bersama kita. Bicara dengan teman, supervisor, atau profesional jika diperlukan.

New Normal sebagai PhD Mom

Keriuhan anak-anak, rumah yang tidak selalu rapi, dan rencana yang sering berubah adalah “new normal” buat saya. Mengharapkan semuanya selalu tenang, sempurna, dan terkendali hanya akan membuat kita semakin lelah. Saat lelah, saya berusaha mengingat bahwa momen ini bisa jadi impian banyak orang. Di balik semua chaos, ada begitu banyak waktu dan momen berharga bersama keluarga yang patut disyukuri.

Salah satu momen paling berat dalam tahun pertama PhD adalah ketika bapak mertua saya meninggal dunia pada musim panas. Saat itu saya bukan hanya student, tetapi juga istri, menantu, dan bagian dari keluarga yang sedang berduka. Dalam masa seperti itu, target akademik terasa jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan untuk hadir bagi keluarga. Saya sangat bersyukur supervisor memberi ruang bagi saya untuk memprioritaskan keluarga. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa PhD bukan hanya tentang ketahanan akademik, tetapi juga tentang kemanusiaan.

Lessons Learned

Perjalanan ini mengajarkan saya untuk tidak takut bermimpi, meskipun usia tidak lagi muda. Tidak ada batas usia untuk belajar. Anak-anak bukan penghalang mimpi. Mereka adalah bagian dari perjalanan ini. Mereka melihat lelahnya, prosesnya, dan semoga suatu hari memahami bahwa mimpi perlu diperjuangkan dengan sabar dan ketekunan. Suami sangat berperan menjaga “roda tetap berjalan” saat studi memerlukan perhatian lebih.

Saya belajar untuk tidak membandingkan perjalanan PhD. Setiap orang membawa beban, cerita, dan support system yang berbeda. Apa yang terlihat mudah bagi orang lain, mungkin menyimpan perjuangan yang tidak terlihat.

PhD Mom life bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus berjalan di tengah ketidaksempurnaan, dan menjadikan perjalanan ini salah satu momen terbaik dalam hidup keluarga kami.