Belajar, Bertumbuh, dan Menemukan Makna: Ibu Berdaya di UK

  • 17 July 2026
  • 03 Mins read

Aku Dhita Mutiara Nabella, saat ini sedang menjalani tahun pertama sebagai PhD student di bidang Sustainable Resources di University College London, UK. Kalau melihat ke belakang, jalur ini sebenarnya bukan jalur yang “umum” buatku. Sebelum memulai S3, aku bekerja sebagai konsultan di bidang sustainability, bukan seorang dosen atau akademisi murni. Dan jujur saja, tidak banyak konsultan yang akhirnya memilih untuk mengambil S3, apalagi di luar negeri. Keputusan ini juga bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ada banyak pertimbangan, keraguan, dan proses panjang sebelum akhirnya aku benar-benar memutuskan untuk melangkah. Karena pada akhirnya, S3 buatku bukan hanya soal gelar, tapi tentang memilih jalan hidup yang berbeda, dengan segala ketidakpastian yang menyertainya.

Aku berangkat ke UK pada Oktober 2025, tapi perjalanan menuju ke titik itu penuh dengan rasa deg-degan. Beberapa bulan sebelumnya, aku sudah mengamankan beasiswa dari LPDP dengan rencana awal melanjutkan studi di Amerika. Namun dalam perjalanannya, aku memutuskan untuk pindah ke UK, yang berarti harus mengurus proses perpindahan kampus dari awal. LoA dari UCL baru aku dapatkan di awal Agustus, dalam waktu yang cukup mepet. Belum selesai di situ, aku juga menghadapi satu hal yang cukup bikin panik, yaitu IELTS-ku ternyata sudah expired di bulan Juli, padahal aku kira masih berlaku sampai Oktober. Mau tidak mau, aku harus mengambil tes IELTS lagi dalam waktu yang sangat singkat. Di saat yang sama, aku juga mengurus visa untuk keluarga, yaitu suami dan anak, yang tidak hanya rumit secara administrasi, tapi juga cukup besar dari sisi biaya, terutama untuk asuransi kesehatan selama empat tahun di UK. Di fase ini, rasanya campur aduk antara cemas, takut, tapi juga tetap berjalan karena sudah terlalu jauh untuk mundur.

London sendiri sebenarnya bukan kota yang asing bagiku. Aku pernah tinggal di sini selama satu tahun untuk S2 di UCL pada 2021–2022 di bidang Environment and Sustainable Development. Banyak sekali memori baik yang tertinggal di kota ini. Dulu, hidup terasa sangat bebas dan fleksibel. Aku bisa pergi ke mana saja sendiri, spontan, bahkan pernah berkeliling tujuh kota di UK dalam tujuh hari dengan biaya yang sangat minim, hanya bermodal jaringan teman-teman. Itu adalah fase hidup yang penuh eksplorasi. Tapi kali ini, semuanya terasa berbeda. Aku datang bersama suami dan anak. Kalau dulu aku sering merasa sepi, sekarang justru hampir tidak pernah benar-benar sendiri. Hari-hari terasa jauh lebih penuh, dimulai dari pagi memasak, menyiapkan anak ke daycare, membereskan rumah, lalu beralih ke peran sebagai mahasiswa PhD. Rutinitasnya tidak ringan, tapi di saat yang sama ada rasa hangat yang dulu tidak pernah aku rasakan.

Menjalani peran sebagai PhD student sekaligus ibu dan istri benar-benar mengubah cara pandangku tentang banyak hal. Ada hari-hari di mana semuanya terasa overwhelming, ada rasa lelah, bahkan keinginan untuk berhenti sejenak. Tapi di sisi lain, ada juga rasa bangga karena tetap bisa berjalan, meskipun pelan. Di fase ini aku mulai belajar bahwa produktivitas tidak selalu berarti melakukan banyak hal sekaligus dengan sempurna. Kadang, produktivitas itu sesederhana tetap hadir dan tetap mencoba, meskipun dengan energi yang terbatas. Tidak semua hari harus sempurna, dan itu tidak apa-apa.

Di tengah kesibukan tersebut, aku mulai merasakan satu hal yang cukup kuat, yaitu rindu untuk berorganisasi seperti dulu saat aktif di PPI London. Namun aku juga sadar bahwa kapasitas aku sekarang tidak sama seperti dulu. Setelah berdiskusi dengan suami, aku mulai berpikir untuk membuat sesuatu yang tetap bermakna, tapi realistis dengan kondisi saat ini. Dari situ muncul ide untuk membangun komunitas ibu-ibu Indonesia di UK. Awalnya sederhana, hanya karena aku merasa butuh ruang untuk berbagi cerita dengan sesama ibu yang juga sedang menjalani peran yang sama. Aku yakin, pasti banyak yang merasakan hal serupa.

Akhirnya lahirlah IBUK, Ibu Berdaya di UK, yang awalnya hanya sebuah grup WhatsApp kecil. Dari obrolan-obrolan sederhana, komunitas ini perlahan berkembang. Pada Februari 2026, IBUK resmi diluncurkan di KBRI London, dan sejak itu semakin banyak ibu-ibu dari berbagai kota di UK yang bergabung. Kami mulai mengembangkan berbagai program seperti Mom Meet-up, Mom Talks, Mom Cast, Mom Guides, dan Mom Outreach. Tapi lebih dari sekadar program, IBUK menjadi ruang aman, tempat ibu-ibu bisa berbagi cerita tanpa merasa dihakimi, merasa didengar, dan tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Perjalanan S3 ini masih panjang, dan aku tahu ke depan akan ada banyak tantangan, baik dari sisi akademik maupun kehidupan sehari-hari. Tapi di tengah semua itu, aku mulai memahami bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang meraih gelar PhD. Lebih dari itu, ini adalah proses bertumbuh. Bertumbuh sebagai individu, sebagai perempuan, sebagai ibu, dan sebagai manusia. Mungkin pada akhirnya, bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi bagaimana kita menjalani setiap langkah dengan penuh kesadaran, dengan segala naik turunnya, dan tetap menemukan makna di dalamnya.

Dhita Mutiara Nabella, mahasiswa doktoral di University College London (UCL), Ibu 1 anak (usia 2,5 tahun).