Satu Tesis, Dua Kota, Tiga Babak
- 17 July 2026
- 03 Mins read
Babak Pertama: Mahasiswi
Sheffield, akhir tahun 2020
Saya datang sendirian dengan dua koper dalam genggaman, secercah harapan, dan sekelebat ketakutan yang saya sembunyikan cukup rapat di balik masker yang tak boleh dilepaskan. Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di Sheffield. Kota yang bahkan tidak ada dalam bucket list saya.
Setelah selesai master di Warwick, saya bertekad mencari negara baru jika ada kesempatan lanjut studi. Incaran saya adalah Schengen area. Saya fokus mencari lowongan di berbagai penjuru Eropa. Lalu datanglah tawaran dari DoSSIER Project, sayangnya di UK lagi. Namun proyek ini menawarkan hal yang sulit ditolak: PhD by employment di bidang yang saya minati, lengkap dengan secondment di beberapa negara Eropa — tidak sesuai rencana, tapi ternyata jauh lebih baik.
Lockdown membuat Sheffield mati suri. Gedung kampus dikunci, tidak ada orientasi tatap muka, bahkan pertemuan pertama dengan supervisor pun berlangsung di dunia maya. Saya full time student sekaligus research associate di proyek yang sama — dua peran, dua deadlines, yang berbeda tapi berjalan bersamaan. Ada draft yang ditolak, banyak revisi yang terasa tak berjejak.
Di sela kesibukan itu, saya menemukan sesuatu yang berharga: teman-teman Indonesia di Sheffield, yang menjadi jangkar di saat badai terasa paling sangar. Dari mereka saya belajar bahwa ada “keluarga” yang kita temukan di perjalanan, yang ikatannya bisa sekuat darah dalam satu keturunan.
Babak Kedua: Istri
Di momen itulah, seseorang hadir. Bukan orang Indonesia, bukan dari budaya yang sama. Kami bertemu secara daring — pandemic couple, kami menyebutnya dengan bangga. Dari sebuah kedai kopi kecil di Sheffield, sebuah pertanyaan diajukan dengan cara yang sederhana dan tulus. Saya jawab iya, dengan Bismillah.
Akad nikah dilangsungkan dengan keluarga besar hadir dalam kotak-kotak kecil di layar Zoom. Ada kebaya yang dikirim dari Bandung menyeberangi benua. Ada akad yang diucapkan dengan seksama. Hanya diikuti makan siang sederhana, bersama kurang dari sepuluh orang di meja. Ternyata, semua itu cukup. Meski jauh berbeda, dari acara pernikahan impian manusia biasa.
Menikah dengan seseorang dari budaya berbeda artinya memulai dari bawah garis axis — bukan sekadar nol, tapi negatif. Ada momen lucu dan suka cita, meski banyak juga yang menguras jiwa raga. Yang paling mengejutkan bukan perbedaannya, melainkan kesamaan yang tak terduga, yaitu nilai-nilai yang kami pegang bersama meski tumbuh di belahan dunia berbeda. Ia bukan peneliti, dunianya jauh dari jurnal dan metodologi. Justru karena itulah ia menjadi teman diskusi yang begitu berharga. Dari dialah saya belajar membumikan riset. Bahwa ilmu yang tidak bisa dijelaskan dalam bahasa manusia biasa, belum selesai dipahami oleh penulisnya sendiri.
Karena pernikahan adalah tentang berbagi cerita dan membangun kisah bersama. Tentang kompromi yang bukan berarti menyerah atau kalah, tetapi memilah untuk melangkah searah.
Babak Ketiga: Ibu
Tidak lama kemudian, datanglah kejutan manis yang mengubah segalanya.
Saya menjadi ibu, di negeri yang jauh dari ibu saya sendiri. Melahirkan di Sheffield, hanya berdua dengan suami. Namun di sekeliling kami, ada teman-teman yang menunggu kabar, menyiapkan makanan bergiliran, memastikan kami baik-baik saja. Rumah bukan soal dimana kita berada, ternyata, adalah dimana cinta memilih untuk tinggal.
Tak lama berselang, kami pindah ke Bradford, lebih dekat dengan keluarga suami. Support system yang dibangun di Sheffield tiba-tiba berjarak. Bradford punya kejutannya sendiri — teman-teman Indonesia baru hadir, mengobati kerinduan yang sempat terasa getir. Di mana pun kaki melangkah, ternyata selalu ada keluarga yang Allah titipkan.
Sepanjang hari hanya milik kami berdua, bayi mungil itu dan saya. Setelah dia tertidur, ketika napasnya yang teratur terdengar merdu, barulah saya mulai bekerja — berkutat dengan data, merangkai kata demi kata, menulis revisi yang sering kali terasa sia-sia.
Ada satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Pertama kalinya sejak dia lahir, saya harus pergi tiga hari ke Itali untuk konferensi. Hanya tiga hari — tapi bagi ibu yang belum pernah berpisah dari anaknya, terasa seperti tiga bulan. Saya menyelesaikan presentasi, tersenyum di sela sesi, sementara di sudut hati terus bertanya. Apakah dia baik-baik saja?
Itulah harga yang tidak tertulis dalam kontrak mana pun sebagai PhD Mom.
Ada banyak titik ketika saya ingin menyerah. Di titik-titik itu, saya memandangnya. Kaki-kaki kecilnya berkejaran dengan daun-daun yang berguguran, serta matanya yang berbinar seperti mentari yang bersinar.
Dia belajar berlari tanpa takut terjatuh. Dan saya, di sampingnya, belajar untuk tetap tangguh.
Dia bukan alasan saya untuk berhenti — dia adalah alasan saya untuk terus mencoba.
Tesis suatu hari nanti akan selesai, publish, dan tersimpan di library. Tapi kenangan ini — berjuang di Sheffield, tumbuh di Bradford, belajar menjadi ibu — itu akan tinggal selamanya.
Lebih dari sebuah tesis.
Hidup tidak menunggu kita siap, dan rencana yang terbaik tidak selalu rencana yang kita susun sendiri. Alasan untuk terus berjuang saya temukan bukan di library atau konferensi, tapi dalam genggaman tangan kecil yang percaya bahwa ibunya akan selalu berusaha.
Untuk para ibu yang sedang berjuang: cari alasanmu untuk terus berjalan. Dan untuk perempuan yang ingin melanjutkan studi tapi dituntut harus menikah dulu — jangan khawatir. Seseorang yang pantas untukmu tidak akan takut dengan gelarmu.
“Fa inna maʿal ʿusri yusra. Inna maʿal ʿusri yusra.”
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
QS. Al-Insyirah: 5–6