Sumber foto: Klaster Education Doctrine UK

ARTICLE

Penulis: Wicaksono Febriantoro, Mahasiswa Doktoral bidang Culture, Communication and Media (Educational Technology), University College London

Pada Jumat, 7 April 2023, sebuah diskusi penting berlangsung melalui Zoom Klaster Education Doctrine UK. Diskusi ini dipandu oleh Desmaliza dengan pembicara Dede Rohaniawati (Ph.D Researcher Coventry University), yang membahas tentang pluralisme agama dari perspektif aktor pendidikan di sekolah berbasis agama. Topik ini sangat relevan dengan konteks Indonesia saat ini, di mana intoleransi beragama menjadi isu yang sering muncul. Dede Rohaniawati, dalam penelitian S3-nya, mencoba menjawab pertanyaan penting: bagaimana pendidikan agama menjawab tantangan pluralisme agama yang semakin kompleks di Indonesia dan dunia saat ini?

Dede Rohaniawati memulai diskusi dengan menekankan pentingnya perspektif orang tentang keberagaman agama untuk toleransi beragama. Menurutnya, pendidikan agama di Indonesia belum mencakup perkembangan situasi dan kondisi sosial Indonesia dan dunia saat ini yang semakin kompleks. Dede Rohaniawati belajar dari pluralisme agama di Inggris yang dimulai sejak tahun 1970-1980an, di mana setiap agama memiliki klaim kebenaran masing-masing. Pendekatan ini melahirkan multi-religion approach di sekolah-sekolah di Inggris.

Namun, pendekatan ini mungkin kurang cocok untuk diterapkan di Indonesia, karena model materi yang diajarkan hanya permukaan saja. Oleh karena itu, Dede Rohaniawati lebih berfokus pada bagaimana pemahaman pluralisme agama di Indonesia? Dengan menggunakan perspektif konstruksionis, dia berargumen bahwa fenomena dibuat oleh persepsi aktor dalam lingkungan pendidikan-sosial. Penelitian ini akan menelusuri pandangan individu dalam lingkungan pendidikan Islam, dengan fokus pada tiga aspek: posisi pluralisme agama dalam dokumen pendidikan menurut pembuat kebijakan, persepsi guru tentang pluralisme agama, dan bagaimana anak-anak memandang pluralisme agama.

Diskusi berlangsung dengan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah tentang bagaimana Dede Rohaniawati menentukan responden penelitian untuk diwawancarai. Dede Rohaniawati menjelaskan bahwa dia memilih Madrasah Ibtidaiyah untuk diteliti karena berkaitan dengan homebase di Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Gunung Djati, Bandung dan karena pendidikan agama di Indonesia sudah dimulai sejak pendidikan dini. Studi kasus ini akan melibatkan tiga jenis Madrasah Ibtidaiyah: negeri, swasta yang berafiliasi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan yang berafiliasi dengan Arab Saudi (Wahabi). Perbedaan tradisi agama dan pembelajaran di setiap sekolah diharapkan dapat memperkaya data penelitian.

Pertanyaan lain yang diajukan adalah tentang strategi terkait ethical clearance atau persetujuan etik penelitian. Dede Rohaniawati menjelaskan bahwa dia membaca semua dokumen komite etik dari kampus dan lembaga terkait seperti BERA (British Educational Research Association), NHS (National Health Service)  dan mengikuti seluruh prosesnya. Dia juga menggunakan teknik storytelling dan projection ketika berhadapan dengan partisipan anak-anak.

Diskusi ini berakhir dengan pertanyaan tentang rigoritas dalam penelitian. Dede Rohaniawati menjelaskan bahwa rigoritas mempengaruhi pertanyaan penelitian dan dia akan mempertimbangkan untuk menambahkan pluralisme agama dari ahli Islam dan pluralisme agama di Indonesia dalam penelitiannya.

Secara keseluruhan, diskusi ini memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana pendidikan agama dapat menjawab tantangan pluralisme agama yang semakin kompleks di Indonesia dan dunia saat ini. Dengan penelitian S3-nya, Dede Rohaniawati berharap dapat memberikan kontribusi penting dalam bidang ini.

***

Keterangan:

Artikel ini merupakan aset pengetahuan organisasi dengan nomor registrasi DOCTRINE UK No. 2023-08-16-Articles. Doctrine UK tidak bertanggung jawab atas pandangan yang diungkapkan dalam tulisan dan pandangan tersebut menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.