Sumber gambar: rawpixel.com on Freepik

ARTICLE

Penulis: Hindun Wilda Risni
Mahasiswi Doktoral Bidang Farmakoepidemiologi, University College London

Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Dunia, Knowledge Cluster Health Sciences – Doctrine UK menyelenggarakan acara Health Talk bertema “Towards New Preventives and Therapeutics for Tuberculosis Disease, Recent Advances and Prospects” pada Minggu, 21 April 2024, secara daring. Acara ini dihadiri oleh dua pembicara dengan fokus penelitian di bidang penyakit tuberkulosis. Kegiatan ini dibuka oleh moderator, Benediktus Yohan Arman dari University of Oxford, yang menyebutkan bahwa bakteri Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Dr. Robert Koch pada 24 Maret 1882; hari tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Dunia. Ia menekankan bahwa meskipun TB merupakan penyakit kuno, TB tetap menjadi masalah kesehatan global yang serius.

Diskusi pertama disampaikan oleh Marcellus Korompis, seorang mahasiswa D.Phil. di Clinical Medicine, University of Oxford, yang memaparkan mengenai perkembangan terkini vaksin TB. Ia menyampaikan bahwa perkembangan vaksin TB di dunia berangkat dari proteksi vaksin TB saat ini, yaitu vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG), yang cenderung menurun seiring berjalannya waktu. Kondisi tersebut menyebabkan perlindungan masyarakat terhadap TB dinilai belum optimal. Marcellus menyebutkan beberapa tantangan dalam pengembangan vaksin TB yang aman dan efektif. Tantangan tersebut adalah kurangnya pengetahuan tentang patogenesis bakteri TB (Mtb), yaitu bagaimana TB dimulai, berkembang, dan memengaruhi respons imun tubuh; minimnya biomarker/penanda yang dapat diandalkan sebagai indikator proteksi tubuh terhadap TB; dan kurangnya model manusia yang dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan vaksin.

Meskipun perkembangan vaksin diwarnai berbagai tantangan, Marcellus mengungkapkan adanya upaya peneliti yang terus berlanjut dalam pengembangan vaksin TB. Ia menyebutkan TB Vaccine Initiative (TBVI) yang didirikan sejak tahun 2000 telah melahirkan berbagai proses pembuatan vaksin (TB Vaccine Pipeline 2024). Beberapa perkembangan vaksin yang menjanjikan, diantaranya adalah vaksin M72+AS01 yang akan segera memasuki fase 3 uji coba di berbagai lokasi, termasuk Indonesia.

Dalam sesi ini, Marcellus juga menjelaskan mengenai penelitian yang dilakukan oleh tim di University of Oxford. University of Oxford tengah fokus mengembangkan formula booster BCG dengan menggunakan antigen subunit (komponen dari bakteri) yang dapat merangsang memori respons imun, alih-alih menggunakan organisme utuh. Marcellus menambahkan bahwa pengembangan vaksin ini mencakup beberapa aspek penting, misalnya pemilihan rute vaksinasi yang tepat agar vaksin sampai pada target yang diinginkan secara efektif. Selain itu, pemilihan antigen yang tepat juga menjadi perhatian utama.

Marcellus menutup diskusi dengan menekankan bahwa meskipun telah ada kemajuan dalam pengembangan vaksin TB, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Ia menyimpulkan bahwa pendekatan baru dalam rute dan formula vaksinasi, serta upaya untuk menemukan biomarker proteksi harus terus dilakukan. Semua ini diharapkan dapat membantu merancang vaksin yang lebih efektif dan memilih kandidat vaksin yang lebih menjanjikan untuk melawan TB.

Diskusi kedua, mengenai tantangan dan prospek pengobatan TB, disampaikan oleh Dhyan K. Ayuningtyas, seorang mahasiswi PhD di Institute for Global Health, University College London. Dhyan menjelaskan bahwa pertumbuhan bakteri TB membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga hal tersebut akan memengaruhi durasi penelitian yang cenderung memakan waktu yang panjang. Ia menjelaskan bahwa penelitian molekuler menjadi salah satu solusi, namun fasilitas, khususnya di negara berkembang, masih belum memadai. Dampak dari pertumbuhan yang lama tersebut, Dhyan menambahkan, adalah pengobatan TB yang membutuhkan waktu lama, yaitu sekitar 6 bulan. Sebagai gambaran, pengobatan TB terdiri dari fase intensif selama 2 bulan dengan obat Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol, serta fase lanjutan selama 4 bulan dengan Rifampisin dan Isoniazid. Durasi pengobatan yang panjang ini pada akhirnya dapat memengaruhi tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat TB.

Tantangan lain dari pengobatan TB adalah kasus resistensi dan toleransi/persistensi. Dhyan menjelaskan bahwa resistensi terjadi ketika bakteri tidak lagi merespons obat pada dosis yang sebelumnya efektif, sedangkan toleransi terjadi ketika waktu yang dibutuhkan untuk membunuh bakteri harus ditambah meskipun dosis obat tetap. Sebagai catatan penting, istilah toleransi merujuk pada semua populasi bakteri, sedangkan persistensi terjadi ketika terdapat subpopulasi bakteri yang mengalami toleransi. Walaupun toleransi tidak dapat diturunkan seperti resistensi, Dhyan menekankan bahwa toleransi/persistensi juga dapat berubah mutan menjadi resistensi sehingga keduanya merupakan kondisi yang berbahaya bagi pasien.

Dhyan mengamini pernyataan Marcellus mengenai keterbatasan model manusia sebagai uji obat TB. Ia menambahkan bahwa uji pada hewan untuk penelitian TB pun akan sangat menantang karena keterbatasan model hewan dan waktu yang lama. Dhyan menyebutkan salah satu solusi, yaitu dengan menggunakan teknologi modelling berupa Hollow-Fibre Infection Model, sebuah uji in vitro di laboratorium yang dapat membuat obat mengalami pelepasan dan proses lainnya yang mirip pada manusia. Dalam sesinya, Dhyan memberikan satu contoh penelitian mengenai persistensi menggunakan model tersebut.

Menurut Dhyan, solusi untuk mengatasi resistensi dan persistensi TB tidak selalu harus melalui pengembangan obat baru. Mengembangkan target baru yang menjadi sasaran obat dengan tujuan deaktivasi/menonaktifkan persistensi menjadi salah satu alternatif yang juga menjanjikan. Deaktivasi ini dapat membuat durasi pengobatan TB menjadi lebih pendek atau dapat menurunkan kemungkinan terjadinya resistensi. Dhyan juga menambahkan bahwa mengembangkan dosis dan durasi pengobatan dapat menjadi cara lain yang efektif, mengingat kepatuhan pasien sangat dipengaruhi oleh durasi pengobatan. Contoh terobosan terbaru adalah penggunaan Bedaquilline, antibiotik yang efektif melawan TB persisten dengan durasi yang cukup singkat. Dengan pendekatan baru dan penelitian yang konsisten, Dhyan berharap tantangan dalam terapi TB dapat diatasi dan pengobatan yang lebih efektif dapat segera terwujud.

Melalui Health Talk ini, pesan penting yang dapat diambil adalah bahwa terobosan dalam pengembangan obat dan vaksin untuk penyakit TB sangat diperlukan. Penguasaan ilmu dan teknologi mutakhir serta riset berkelanjutan menjadi kunci utama. Hasil penelitian mahasiswa Indonesia di Inggris diharapkan dapat diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan kemandirian dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. Dengan demikian, kita dapat membangun masa depan yang lebih sehat dan mandiri dalam menghadapi tantangan kesehatan global.

Keterangan:

Artikel ini merupakan aset pengetahuan organisasi dengan nomor registrasi DOCTRINE UK No. 2024-05-26-Articles. Doctrine UK tidak bertanggung jawab atas pandangan yang diungkapkan dalam tulisan dan pandangan tersebut menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.