Sumber: Guest Seminar: Deconstructing Gender & Anti-Corruption Discourse in Indonesia  https://www.doctrineuk.org/event/deconstructing-gender-anti-corruption-indonesia/

ARTICLE

Penulis: Nita Yalina, PhD in Management, University of Leeds

Bagaimana kaitan perempuan dan korupsi di Indonesia dan bagaimana media mengemasnya? Pertanyaan tersebut menjadi highlight dalam diskusi yang diadakan oleh Klaster Keilmuan Doctrine UK: Feminism & Development Pada tanggal 23 Desember 2022 bersama dengan Kanti Pratiwi, PhD. Topik yang diangkat adalah “Deconstructing Gender & Anti-Corruption Discourse in Indonesia”. Kanti menceritakan pengalaman beliau dalam menjalani riset doktoralnya di Melbourne University dan bagaimana riset tersebut pada akhirnya menghasilkan salah satu keluaran yang berjudul “Mistresses, mothers, and headscarves: media representations of women in corruption scandals in Indonesia” yang diterbitkan oleh Feminist Media Studies, Routledge di tahun 2022.

Berbekal dari pengalaman pribadi terlibat di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelum akhirnya menjadi akademisi di Universitas Indonesia serta berawal dari keprihatinan terhadap kasus korupsi dan ramainya pemberitaan mengenai hal terebut di media, Kanti menyadari bahwa definisi terhadap korupsi sangat luas dan beragam. Hal ini memotivasi beliau untuk mengupasnya lebih dalam melalui perspektif Social Constructionism. Teori ini menyatakan bahwa orang mengembangkan pemahamannya tentang dunia dan realitas yang ada di sekitar berdasarkan asumsi bersama (Berger, 1966). Secara dominan korupsi didefinisikan sebagai penyalahgunaan wewenang pejabat publik untuk kepentingan pribadi. Fenomena inequality seperti ketimpangan sosial, ekonomi, dan kekuasaan yang memicu tindakan korupsi terkesan tidak mendapatkan atensi oleh pemangku kepentingan sehingga publik melihat korupsi itu hanya sebatas persoalan integritas dan moralitas.

Menggunakan metode Critical Discourse Analysis (definisi: bagaimana pengetahuan dikonstruksi lewat bahasa), Kanti dan rekan melakukan analisis dan menyoroti bagaimana media menarasikan perempuan dan korupsi. Hal ini dirasa penting mengingat peranan media yang cukup besar sebagai pijakan pengetahuan bagi masyarakat umum. Dari hasil penelitiannya, terdapat tiga temuan utama. Pertama, a discourse of promiscuous sexuality, fokus pada bagaimana media menyoroti laki-laki yang terlibat dalam korupsi dan memiliki hubungan dengan perempuan lain. Kedua, a discourse of moral ibuism, dimana perempuan digambarkan sebagai garda terdepan untuk melindungi moral masyarakat, sehingga anomali negatif yang terjadi di masyarakat tidak lain merupakan andil dari kegagalan perempuan dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Ketiga, a discourse of Islamic piety yang menggambarkan bagaimana perempuan yang mengenakan atribut keagaamaan, dalam hal ini hijab, lebih rentan mendapat kritikan akibat penampilannya yang menonjolkan bentuk kesalehan yang sangat berlawanan dengan moralitas tindakan korupsi. Analisis tersebut menarik perhatian pada, pentingnya menempatkan korupsi dan representasi media berdasarkan gender sebagai masalah yang bersinggungan dengan konteks sosial, politik, agama, dan sejarah (Pertiwi, 2022).

Temuan ini memantik diskusi yang cukup hangat antara narasumber dengan peserta yang hadir pada saat itu, mulai dari pertanyaan konseptual seperti kaitan antara budaya korupsi dengan masa kolonialisme, kondisi sosial kultur di Indonesia, sampai pada best practice seperti bagaimana negara yang berhasil melepaskan diri dari korupsi dan praktik-praktik korupsi di dunia akademis. Diskusi ditutup dengan penekanan pentingnya mempromosikan riset yang berpihak pada perempuan dan melihat segala sesuatu secara kritis serta meninggalkan pertanyaan yang tentu harus dijawab bersama: apakah perempuan benar-benar bisa berperan lebih dalam pemberantasan korupsi? 

Referensi:

  1. Berger, Peter L. dan Thomas Luckmann (1966). The Social Construction of Reality: A Treatise in The Sociology of Knowledge. Gaeden City, NY: Anchor Books.
  2. Pertiwi, K., & Wijaya Mulya, T. (2022). Mistresses, mothers, and headscarves: media representations of women in corruption scandals in Indonesia. Feminist Media Studies, 1-17.

***

Keterangan:

  • Artikel ini merupakan aset pengetahuan organisasi dengan nomor registrasi DOCTRINE UK No. 2023-02-3-Articles.
  • Doctrine UK tidak bertanggung jawab atas pandangan yang diungkapkan dalam tulisan dan pandangan tersebut menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.